Salam rindu, Galuh.

"Kamu boleh nangis dalam seharinya cuman tujuh menit. Setelah tujuh menit itu berlalu. Kamu harus menjadi Clara yang ceria. Kamu harus janji ! Hal ini boleh berlanjut hanya dalam waktu tujuh hari. setelah tujuh hari tujuh menit mu habis. Kamu harus menjadi Clara yang 'selalu' ceria."

Hay, harus dari mana aku mulai bercerita?
Tentang sekolahku kah? atau tentang keadaan hati ku?
Kamu pasti banyak ketinggalan kabar tentang ku. Kamu pasti tak tahu, bahwa sekarang pipi tembem ku sudah mengepis. Kamu juga pasti tak tahu, sekarang tinggi ku hampir sama dengan kak Chika. Kakak sepupuku yang selalu kita ajak jalan-jalan mengelilingi setiap sudut kota.
 
Tapi, apa yang tak pernah aku tahu tentang mu?
Tentang kamu menjadi juara kelas tahun ini. Tentang liburan mu ke Jogja bulan lalu dan tentu saja tentang wanita itu.
Aku tahu semuanya, jangan tanya aku tahu dari mana.

Banyak yang terjadi setelah perpisahan kita.
Mulai retaknya hubungan ayah dan bundaku. Lalu perceraian yang terjadi. Kepulangan ku ke kampung halaman ku, Jogja.

Apa kamu akan tertawa ketika kamu tahu, setelah perpisahan kita penderitaan silih berganti mengisi hari-hari ku. 
Tak banyak yang bisa aku ceritaka  lewat tulisan ini. Kecuali tentang rasa sakit.
aku ingin menangis di pundak mu seperti dulu. Setiap masalah datang, kamu selalu jadi sandaranku.

Tapi, entah kenapa. Kamu berubah, menjelma seperti sosok yang tak pernah ku kenal.
Hingga hubungan kita tak tentu arahnya.
Hingga hubungan kita berakhir dengan kata putus.
Kamu pasti tak lihat air mata ku waktu itu. Berhari-hari aku menangis, kamu tentu tak pernah melihatnya.
Kamu sengaja tak ingin bertemu dengan ku. Berminggu-minggu aku memberi mu waktu. Setiap harinya, aku berharap kamu akan datang ke rumah ku lalu membawa kebahagiaan dan ketenangan itu lagi. Tapi itu tak kunjung terjadi. Sampai akhirnya Jogja memanggil ku untuk pulang.

Kini, aku tinggal dengan ayah. Bunda sudah menikah dengan suami barunya. Baik, tapi tak ada yang bisa menggantikan kebaikan ayah. Aku tak tahu jelas apa penyebab mereka memilih untuk berpisah. Tapi, yang jelas. Rasanya sakit sekali. Aku hampir sendirian.

Beberapa jam sebelum keberangkatan ku. Lala sahabat kita menemuiku di Bandara Ngurah Rai. Dulu, kita selalu bermain di rumah Lala setiap liburan. Aku harap semua kejadian hal itu terekam jelas dibenak mu sampai saat ini.
Aku masih ingat kalimat yang terakhir diucapkan Lala.
"Kamu boleh nangis dalam seharinya cuman tujuh menit. Setelah tujuh menit itu berlalu. Kamu harus menajdi Clara yang ceria. Kamu harus janji. Hal ini boleh berlanjut hanya dalam tujuh hari. Setelah tujuh hari tujuh menit mu habis. Kamu harus menjadi Clara yang 'selalu' ceria."
Kata-kata itu menjadi perintah menyakitkan bagiku juga bagi perasaan ku sendiri.
Tapi, kata-kata itu yang sekarang juga menjadikan ku Clara yang 'selalu' ceria

Galuh, salam untuk boneka merah marun mu. Aku rindu.
Lain kali, aku akan sambung ceritaku. Jika aku punya tenaga lebih untuk membuka luka lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Psikologi