Postingan

Aku Rindu!

Lama sudah rasanya aku tidak menyusun kata demi kata. Kemudian mempostingnya di sini agar sempat terbaca oleh mu atau teman-temanmu. Iya, aku tau kamu sama sekali tak pernah suka membaca. Tapi tulisanku yang sengaja aku share di social media pasti terlalu membuat mu bising ya? Sehingga dengan sangat amat terpaksa kamu pasti membacanya.  Hallo, aku rindu. Rindu sekali.  Beberapa hari ini aku sibuk menyibukkan diri. Jalan-jalan, makan di tempat yang banyak mengandung manis-manisnya. Nanti akan ku ceritakan kenapa aku sibuk menyibukan diri.Ah... rindu. Aku rindu. Berapa kali aku bilang kalau aku rindu? Baru dua. Belum tiga, empat, lima atau enam. Kalau rindu obatnya apa ya…? Telfon? Sms? Atau Ketemu?. Iyaa.. yang paling ampuh memang pertemuan. Jadi kapan? Kapan kamu akan ke sini atau… eh tunggu. Setelah sholat Maghrib tadi aku menyempatkan diri pergi ke ATM. Membayar tagihan tiket kereta. Jangan kaget…. Karna bagiku, menikmati waktu senggang UTS di kosan sangat me...

ketika hidup terasa tak menyenangkan

Jatuh cinta itu banyak definisinya. Beberapa orang mengatakan bahwa jatuh cinta itu hanya indah di awal lalu sakit di akhir. Manis di awal miris di akhir. Tapi, jika aku boleh jujur jatuh cintalah yang membuat ku semakin dewasa. Semakin mempunyai tingkat dalam kehidupan. Semakin mengerti tentang rasa sakit dan bahagia. Walaupun perlu tenaga ekstra untuk mengatasinya. Tuhan selalu tahu cara untuk membuat umat Nya mengingat keberadaan Nya. Percayalah kita tak pernah sendiri. Pernah seorang Sahabat sastra ku mengatakan  " Hidup ini gak pernah adil sama kamu, jadi sekarang kamu sendiri yang harus cari keadilan itu. Seberapapun sulitnya, teruslah berjalan " Entah itu adalah kalimat motivasi atau apa yang jelas aku membenarkan perkataan itu. Kali ini aku ingin bercerita bukan tentang seorang sahabat sastra, keluarga, atau orang-orang disekitarku. Tapi, ini tentang diriku.  Kamu tahu, belum beberapa hari ini Tuhan mengabulkan doaku. Tentang dia, tentang kami. Tak ada yang is...

maaf.

Berotasilah semaumu, aku tak pernah mau peduli. Tapi mohon, jangan lagi menganggu rutinitasku. Jangan lagi ciptakan air mata, aku bosan juga lelah. Terimakasih Tuhan, bulan purnama yang indah. Terimakasih telah mengizinkan ku melihat bulan purnama untuk kesekian kalinya dari sini. Tuhan, betapa aku rindu sosoknya, betapa aku ingin memeluknya dengan hangat. Maaf Tuhan, maaf sekali. Aku masih belum bisa menepati janji ku untuk melupakannya. Sudah,sudah ku coba sebisa mungkin. Membiarkan semuanya berjalan seperti biasa. Semunya aku berhasil. Nyatanya, aku masih terengah menjalani semuanya. Aku percaya, rencana mu lah yang paling indah. Aku manusia biasa, tak bisa ciptakan takdir yang ku mau. Tuhan, hanya minta sedikit diringankan. Segala beban,rasa sakit juga luka yang semakin ku ingat semakin susah pulih. Tuhan, bahagiakan aku layaknya apa yang telah aku perbuat. Rasa sakitnya buat badanku mengigil dalam malam. Langit-langit begitu cerah, walaupun malam datang. Aku selalu mencoba...

semoga ini belum terlambat

Semoga ini belum terlambat. Kelihatannya semua sudah cukup banyak berubah. Semenjak saat itu aku dan kamu benar-benar berjarak. Tak ada sapaan selamat pagi di antara kita tak ada tawa-tawa kecil di antara kita. Semuanya berubah, entah kemauan siapa. Aku selalu menyalahkan takdir hingga aku lupa bertanya pada diriku sendiri. "Hal apa yang membuat mu begitu menjauhiku?". Iya...semoga ini belum terlambat. Kita paling suka menghabiskan waktu di cafe favorit kita. Bercerita tentang banyak hal. Padahal, setiap harinya kita punya waktu bersama di kelas. Tapi, entah kenapa kita tetap suka menghabiskan waktu berdua. Kamu adalah pendengar dan pencerita yang baik. Kamu juga suka bercerita tentang keluargamu. Walaupun aku tak pernah mengenal mereka tapi aku merasa dekat dengan mereka. Kita baru berusia lima belas tahun. Kenyatannya lagi, aku dan kamu berbeda. Mungkin, hal itu yang membuat kamu enggan mengenalkan ku dengan mereka. iya, tak ada yang menyenangkan selain melakukan hal k...

aku benci, hal ini.

Hari ini, aku bermimpi tentang kamu, juga tentang kita. Mungkin, karena aku terlalu lelah dengan keadaan di sekitarku. Dan mungkin juga karena aku lelah dengan tugas-tugas sekolahku. Maka, bayang-bayangmu datang tiba-tiba lagi. Padahal, yang mereka tau, aku sudah lama lupa tentang kamu juga tentang kita. Aku tak tau harus menyebutnya mimpi buruk atau mimpi indah. Tidak, ini bukan seperti mimpi kejadian barusan seperti kenyataan. Kamu datang tiba-tiba, memeluk ku dengan hangat. Iya! aku bisa rasakan pelukan itu, pelukan yang biasa kamu berikan ketika aku mulai merasakan sakit yang luar biasa. Sayang, mungkin pelukan itu telah iya rasakan sekarang. Disana, ada kamu. Juga ada sahabat-sahabat kita. Menyaksikan air mata yang keluar dari indramu. Mereka melihat mu memeluk ku. Hal itu nyata! nyata! barusan, aku bukan saja sedang bermimpi! Takdir...ayolah, bersahabat dengan ku. Buat aku bahagia. Paling tidak seimbang. Ketika dia sudah melupakan ku seperti saat ini. Buatlah kami seimbang...

Aku rindu kotak makan siangmu

Kalau boleh jujur. Aku benci tentang perasaan ku yang masih sengaja ku simpan rapat-rapat untukmu. Jika saja aku terlahir dengan keadaan yang bisa aku pilih sendiri. Aku benci harus jujur soal ini.  Tentang perasaan ku, juga tentang kenangan-kenangan yang masih ku simpan. Apa yang aku lupa? Burung origami? Kotak makan siang kita? Semuanya, satupun tak pernah ada yang aku lupakan. Beginalah caraku kini agar kamu tak terganggu dengan perasaanku. Memperhatikan mu dari sini, berharap kamu melihatku lagi. Walaupun mustahil. Jujur, aku benci dengan perasaan ku sendiri. Setiap saatnya selalu berharap kamu kembali.  Makan siang bersamamu, menikmati pelajaran hingga selesai.  Membosankan memang tapi apapun yang aku lakukan bersamamu walaupun berulang kali semuanya tetap terasa menyenangkan. Kamu pasti bertanya tentang banyak hal. Kenapa aku masih saja mebicarakan tentang dirimu dalam kosa kataku. Kadang, aku juga bingung sendiri. Kenapa kamu dan kenangan...

Bagaimana kabarmu?

Bagaimana kabarmu? sedang musim apa di kotamu?  penghujan kah? jika benar, berarti sama dengan disini. Di kotaku. Sudah hampir sepekan ini, rintikan hujan membasahi tanah Jogja. Rintikan inilah yang menemani ku disetiap saat aku mengenangmu, seperti saat ini.  Memang,memang aku sudah berjanji untuk lupa. lupa tentang kamu, juga tentang kita. tapi, bagaimana mungkin aku melupakan hal yang tak pernah ingin aku lupakan? Hay! kali ini, hujan turun lebih deras. Bersamaan dengan suara petir yang tak pernah ku suka.  Apa kmu masih ingat. Waktu itu malam datang pada bumi, lalu kita pergi keliling kota. Menikmati keindahan kota Denpasar. Tiba-tiba suara petir memekikan telinga kita. Beruntung saja waktu itu kita berada di dalam mobil mungil mu. Kamu ingat  bagaimana wajah ketakutan ku waktu itu? aku sama sekali tak suka petir, aku benci petir. Jika berbicara tentang dulu, pasti berbicara tentang masa lalu. Jika boleh, aku ingin sekali mengulang masa lalu. Masa lalu b...