ketika hidup terasa tak menyenangkan

Jatuh cinta itu banyak definisinya. Beberapa orang mengatakan bahwa jatuh cinta itu hanya indah di awal lalu sakit di akhir. Manis di awal miris di akhir. Tapi, jika aku boleh jujur jatuh cintalah yang membuat ku semakin dewasa. Semakin mempunyai tingkat dalam kehidupan. Semakin mengerti tentang rasa sakit dan bahagia. Walaupun perlu tenaga ekstra untuk mengatasinya. Tuhan selalu tahu cara untuk membuat umat Nya mengingat keberadaan Nya. Percayalah kita tak pernah sendiri.

Pernah seorang Sahabat sastra ku mengatakan
 " Hidup ini gak pernah adil sama kamu, jadi sekarang kamu sendiri yang harus cari keadilan itu. Seberapapun sulitnya, teruslah berjalan "

Entah itu adalah kalimat motivasi atau apa yang jelas aku membenarkan perkataan itu. Kali ini aku ingin bercerita bukan tentang seorang sahabat sastra, keluarga, atau orang-orang disekitarku. Tapi, ini tentang diriku. 

Kamu tahu, belum beberapa hari ini Tuhan mengabulkan doaku. Tentang dia, tentang kami. Tak ada yang istimewa malam itu. Hanya senyuman dan sapaan sederhana. Tak ada rasa yang sama, hanya tangan ku sedikit dingin dan badanku mendadak mengigil. Di antara dinginnya suasana malam aku meraba setiap sudut yang ada. Berusaha terliha biasa, berusaha menahan diri untuk tidak lagi terlihat lemah di depannya. 
Wajah lugunya masih seperti dulu, percayalah sebenarnya itu hanya topeng yang melekat alami dalam dirinya. 

Aku tak pernah menyangka pertemuan kami yang kesekian kalinya hanya seperti angin lewat. Tak ada yang special kecuali, ketika aku mulai mencoba membuka pembicaraan. Hanya menayangkan kabar, lalu kami kembali lagi sibuk sendiri. Jika saja aku bisa membaca pikirannya. Aku hanya ingin tahu apa dia terkejut dengan pertemuan kami. Entah berapa lama aku tak pernah melihat wajah lugunya, entah berapa lama aku tak pernah menatap matanya lekat-lekat dan entah berapa lama juga aku tak mendengar suaranya. Jelas saja, aku rindu semuanya. Tapi sengaja ku tutup rapat-rapat. Tak ada yang perlu tahu, termasuk dia. Biar Tuhan yang tahu semua tentang ku, biar semuanya tersimpan dalam diam.

 Pertemuan itu, lagi.  Membawa air mata dan sedikit isak tangis. Aku sengaja menahan tangisanku, agar tak pernah ada yang tahu. 
Sahabat di sekolah ku pernah mengatakan

 " Kalau kamu ngerasa udah gak kuat lagi, udah bener-bener sedih, kamu peluk bantal atau boneka terus kamu bisa nangis sepuasnya pasti jauh lebih lega" 

Hal itu ternyata benar. malam itu aku melewatinya dengan air mata. Bukan, bukan dengan air mata rasa sakit tapi air mata bahagia. Aku bahagia bisa melihatnya tersenyum. Senyuman yang tak pernah aku temukan ketika kami bersama. Aku bahagia melihatnya bisa tertawa lepas aku juga bahagia melihat sinar matanya andai aku bisa mengacak-ngacak rambutnya seperti dulu. Aku bahagia melihatnya bahagia bahkan walaupun aku tahu penyebabnya bahagia bukan aku. Senyumnya lebih indah dari biasanya, tidak seperti dulu. Ketika kami bersama, rasanya ada banyak beban yang dia pikul sendirian, dia tak pernah banyak cerita, tak pernah banyak bicara. Dia hanya melakukan apa yang membuat ku bahagia, tanpa dia pernah perduli dengan rasa sakitnya sendiri. 

Kini, kenangan itu muncul satu persatu. Tapi aku bersyukur tekad ku tak tegoyahkan sedikitpun. Aku berhasil menahan diri untuk tak berlari kearahnya lalu memeluknya seperti dulu. Aku juga berhasil menahan air mata sampai aku tiba di rumah dan bahkan aku berhasil menujukkan senyum terindah ku, bahkan disaat aku sama sekali tidak dalam keadaan 'baik'. Semua hal yang pernah terjadi membuat ku lebih mengerti arti kehidupanku. Disaat aku harus bersyukur dari setiap detik yang telah Tuhan berikan. Sahabat, kita tak pernah tahu hal apa yang akan memisahkan kita dengan yang terkasih. tapi perpisahan itu pasti dan nyata. Entah itu karena kematian atau hal yang disebut agama. Seperti manusia lainnya, aku juga ingin bahagia. Tuhan, terimakasih untuk pertemuan sederhana yang telah Kau ciptakan. Dalam diam, aku mengucap syukur.

*dnbO


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Antropologi dan Biografi Antropolog

Definisi Konsepsional & Pengertian kreativitas 4P

budaya minang