semoga ini belum terlambat

Semoga ini belum terlambat.

Kelihatannya semua sudah cukup banyak berubah. Semenjak saat itu aku dan kamu benar-benar berjarak. Tak ada sapaan selamat pagi di antara kita tak ada tawa-tawa kecil di antara kita. Semuanya berubah, entah kemauan siapa. Aku selalu menyalahkan takdir hingga aku lupa bertanya pada diriku sendiri. "Hal apa yang membuat mu begitu menjauhiku?". Iya...semoga ini belum terlambat.

Kita paling suka menghabiskan waktu di cafe favorit kita. Bercerita tentang banyak hal. Padahal, setiap harinya kita punya waktu bersama di kelas. Tapi, entah kenapa kita tetap suka menghabiskan waktu berdua. Kamu adalah pendengar dan pencerita yang baik. Kamu juga suka bercerita tentang keluargamu. Walaupun aku tak pernah mengenal mereka tapi aku merasa dekat dengan mereka. Kita baru berusia lima belas tahun. Kenyatannya lagi, aku dan kamu berbeda. Mungkin, hal itu yang membuat kamu enggan mengenalkan ku dengan mereka.
iya, tak ada yang menyenangkan selain melakukan hal konyol bersamamu. Apapun itu, aku tak pernah bosan melakukannya. Meskipun berulang-ulang.

Semoga ini belum terlambat.

Jauh di dalam perasaan ku sendiri yang terkadang selalu aku ragukan. Aku masih memiliki perasaan yang dulu sempat hilang. Bodoh? iya, memang. Tapi ini kenyatannya. Bukan hal yang mudah untuk melupakan seseorang yang sangat di sayang. Apa lagi pertemuan selalu menakdirkan untuk bertemu.
Aku sudah mencoba menepis semuanya, mengalihkan perasaan ku. Sudah... semuanya sudah aku lakukan. Awalnya aku berhasil, andai saja si 'picik' itu tak pernah merusak rencanaku. Tapi nyatanya, aku tak berhasil melupakanmu, belum mungkin. Hingga pada kenyatannya, perasaan ku masih sama seperti dulu. Masih seperti sepuluh bulan yang lalu. Masa-masa itu pasti akan sulit aku lupakan. Entah kenapa dada ku selalu sesak jika mengingat satu persatu masa-masa kita dulu. Aku bahagia, sangat amat bahagia. Sekarang, mungkin waktunya terlambat. Tapi aku harap aku tak pernah benar-benar terlambat. Meskipun sekarang, kamu telah terlihat terbiasa menjalani semuanya tanpa ada kita. Meskipun yang terlihat kamu telah bahagia. 

Kamu tahu? tak mudah untuk seorang aku agar tetap terlihat baik-baik saja setiap pertemuan menakdirkan kita bertemu. Bukan hal yang mudah untuk mengatakan beberapa hal ini secara langsung. Bahwa aku menyayangi mu. Berbulan-bulan lamanya dan hal ini selalu tertahan. Dan akhirnya takdir membuat ku menulis 'pernyataan' ini. Aku sengaja menyatakannya lewat tulisan. Karena aku tak pernah berbakat jika diajak bicara langsung tentang perasaan. Jangankan mengatakan ini secara langsung, menatap mu saja rasanya butuh tenaga lebih.

Maaf, jika tulisan ini terkesan seperti bualan. Maaf aku tak sempat membuat mu bahagia. Maaf jika sampai saaf ini mungkin perasaan ku menganggumu.

Aku sengaja menulis tulisan ini. Semoga, ini menjadi tulisan terakhir ku tentang mu.
Semoga, ini adalah bukti kegalauan terakhir ku tentangmu. Karena, jujur. Aku lelah dalam pengabaian.

Komentar

  1. setiap yang vio tulis, belum tentu tentang diri vio. Bisa saja vio sedang menceritakan kisah orang lain. hati-hati menilai:) mari berteman. @selvionitaafrin

    mari berteman! semangat vio tulisanmu bagus!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Antropologi dan Biografi Antropolog

Definisi Konsepsional & Pengertian kreativitas 4P

budaya minang